Selasa, 13 Januari 2015

Cara Meningkatkan Inovasi di Sekolah

Untuk menghadapi dinamika perubahan dan kompetisi yang sangat tajam dan ketat dan demi keberlangsungan hidup suatu organisasi, maka setiap orang dalam organisasi  dituntut untuk dapat bersikap, berfikir dan bertindak secara inovatif. Dalam hal ini, Paul Sloane dalam sebuah tulisannya mengetengahkan 10 Cara Meningkatkan Inovasi, yang sangat mungkin untuk diiadopasi dan diadaptasi dalam konteks pengembangan inovasi di sekolah.  Kesepuluh cara meningkatkatkan inovasi tersebut adalah:
1. Memiliki visi untuk berubah
Jangan berharap suatu tim akan menjadi inovatif apabila mereka tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai ke depan. Inovasi harus memiliki tujuan dan seorang pemimpin harus mampu menyatakan dan mendefinisikan tujuan secara jelas sehingga setiap orang dapat memahami dan mengingatnya. Para pemimpin besar banyak meluangkan waktu untuk menggambarkan dan menjelaskan visi, tujuan dan tantangan masa depan kepada setiap orang . Mereka berusaha meyakinkan setiap orang akan peran pentingnya dalam upaya mencapai visi dan tujuan, serta dalam menghadapi berbagai tantangan. Mereka mengilhami kepada setiap orang untuk menjadi enterpreneur yang bersemangat dan menemukan cara-cara yang inovatif untuk memperoleh kesuksesan.
2. Memerangi ketakutan akan perubahan
Para pemimpin inovatif senantiasa mengobarkan semangat pentingnya perubahan. Mereka berusaha menggantikan kepuasan atas kemapanan yang ada dengan kehausan akan ambisi. Mereka akan berkata, ” Saat ini kita memang sedang melakukan hal yang baik, tetapi kita tidak boleh berhenti dan berpuas diri dengan kemenangan yang ada, kita harus melakukan hal-hal yang lebih baik lagi”. Mereka menyampaikan pula bahwa saat ini kita sedang melakukan suatu spekulasi baru yang penuh resiko, dan jika kita tidak bergerak maka akan jauh lebih berbahaya. Mereka memberikan gambaran menarik tentang segala sesuatu yang hendak diraih pada masa mendatang. Oleh karena itu, satu-satunya cara menuju ke arah sana yaitu dengan berusaha memeluk perubahan.
3. Berfikir Seperti Pemodal yang Berani Mengambil Resiko
Seorang pemodal yang berani mengambil resiko akan menggunakan pendekatan portofolio, berusaha mencari keseimbangan antara kegagalan dengan kesuksesan. Mereka senang mempertimbangkan berbagai usulan atau gagasan tetapi tetap merasa nyaman dengan berbagai pemikiran yang menggambarkan tentang kegagalan-kegagalan yang mungkin akan diterima.
4. Memiliki Suatu Rencana Usulan yang Dinamis
Anda harus memfokus pada rencana usulan yang benar-benar hebat, setiap rencana mudah dilaksanakan, sumber tersedia dengan baik, responsif dan terbuka untuk semuanya. Berikan penghargaan dan respons yang wajar kepada karyawan serta para senior harus memliki komitmen agar karyawan tetap dapat menjaga kesegarannya dalam melaksanakan setiap pekerjaan.
5. Mematahkan Aturan
Untuk mencapai inovasi yang radikal, Anda harus memiliki keberanian manantang berbagai asumsi aturan yang ada di sekitar lingkungan. Bisnis bukan seperti permainan olah raga yang selalu terikat dengan aturan dan keputusan wasit, tetapi bisnis tak ubahnya seperti seni, yang di dalamnya memiliki banyak kesempatan untuk berfikir secara lateral, sehingga mampu menciptakan cara-cara baru tentang aneka benda dan jasa yang diinginkan para pelanggan.
6. Beri Setiap Orang Dua Pekerjaan
Berikan setiap orang dua pekerjaan pokok. Mintalah kepada mereka untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka secara efektif dan pada saat yang bersamaan kepada mereka diminta pula untuk menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaannya. Doronglah mereka untuk bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya tujuan esensial dari peran saya? Hasil dan nilai riil apa yang bisa saya berikan kepada klien saya, baik internal maupun eksternal? Apakah ada cara yang lebih baik untuk memberikan dan mencapai nilai atau tujuan tersebut? Dan jawabannya selalu mengatakan “YA”. Tetapi, kebanyakan orang tidak pernah atau jarang menanyakan hal-hal seperti itu.
7. Kolaborasi
Beberapa eksekutif perusahaan memandang kolaborasi sebagai kunci sukses dalam inovasi. Mereka menyadari bahwa tidak semua dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pada sumber-sumber internal. Oleh karena itu, mereka melihat dunia luar dan mengajak organisasi lain sebagai mitra, sehingga bisa saling bertukar pengalaman dan keterampilan dalam team.
8. Menerima kegagalan
Pemimpin inovatif mendorong terbentuknya budaya eksperimen. Setiap orang harus dibelajarkan bahwa setiap kegagalan merupakan langkah awal dari perjalanan jauh menunju kesuksesan. Untuk menjadi orang benar-benar cerdas dan tangkas, setiap orang harus diberi kebebasan berinovasi, bereksperimen dan memperoleh kesuksesan dalam melakukan pekerjaannya, termasuk didalamnya mereka juga harus diberi kebebasan akan kemungkinan terjadinya kegagalan.
9. Membangun prototipe
Anda harus berani mencobakan suatu ide baru yang biaya dan resikonya relatif rendah ke dalam pasar (dunia nyata), kemudian lihat apa reaksi dari pelanggan dan orang-orang. Di sana sesungguhnya Anda akan lebih banyak belajar tentang dunia nyata, dibandingkan jika Anda hanya melakukan uji coba dalam laboratorium atau terfokus pada sekelompok orang saja.
10. Bersemangat
Anda harus fokus terhadap segala sesuatu yang ingin dirubah. Siap dan senantiasa bergairah dan bersemangat dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai tantangan. Energi dan semangat yang Anda miliki akan menular dan mengilhami setiap orang. Tak ada gunanya jika Anda mengisi bus dengan penumpang yang selalu merasa asyik dengan dirinya sendiri. Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat.

Mengembangkan Kreativitas dalam Pembelajaran

Secara generik  mengembangkan kreativitas  siswa dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai  pengkondisian atau membangun iklum yang memicu berkembangnya kemampuan berpikir dan berkarya. Landasannya adalah menguasai pengetahuan dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam bentuk keterampilan terbaik.
Kreativitas itu merupakan produk pada level berpikir tertinggi. Itu sebabnya, teori Bloom yang baru  menempatkan  to create atau berkreasi menjadi bagian penting penyempurnaannya sehingga ranah kognitif tidak diakhiri dengan evaluasi, melainkan kreasi.
Untuk mengembangkan siswa yang kreatif diperlukan guru-guru yang memiliki kompetensi sebagai berikut:
  • berpengetahuan tentang karakater dan kebutuhan siswa kreatif.
  • terampil mengembangkan  kemampuan berpikir tingkat tinggi.
  • terampil mengembangkan kemampuan siswa memecahkan masalah.
  • mampu mengembangkan bahan ajar sehingga  menantang siswa lebih kreratif.
  • mengembangkan strategi pembelajaran individual dan kolaboratif.
  • memberi toleransi dan memberi kebebasan sekali pun hal itu tidak dikehendakinya jika ternyata prilaku berbeda itu menghasilkan produk belajar yang lebih kreatif.
Di samping kebutuhan kompetensi guru,  pengembangan kreativitas siswa melalui pembelajaran memerlukan iklim atau kultur yang menunjang. Ada kebiasaan-kebiasaan yang baik yang guru tumbuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prilaku siswa kreatif tidak selalu seperti prilaku yang guru harapkan sehingga sering terjadi guru tidak menujang tumbunya kreativitas siswa.
Menurut hasil studi Utami Munandar (1997) ciri-ciri siswa kreatif adalah:
  • terbuka terhadap pengalaman baru.
  • kelenturan dalam sikap
  • kebebasan dalam ungkapan diri
  • menghargai fantasi
  • minat dalam kegiatan kreatif.
  • memiliki tingkat kepercayaan diri terhadap gagasan sendiri.
  • mandiri dan menunjukkan inisiatif.
  • kemandirian dalam memberi pertimbangan.
Di samping sifat tersebut dilihat dari  pengalaman penulis  mengajar, siswa kreatif memiliki sifat-sifat yang berani sehingga kadang-kadang berprilaku berani menentang pendapat, menunjukkan ego yang kuat, bertindak semau gue, menunjukan minat yang sangat kuat terhadap yang menjadi perhatiannya namun pada saat yang berbeda mengabaikannya, memerlukan kebanggaan atas karyanya. Sifat-sifat tersebut sering bertentangan dengan yang guru harapkan.
Guru mengharapkan siswa sopan, rajin, ulet, menyelesaikan tugas sesuai dengan yang guru targetkan, bersikap kompromis, tidak selalu bertentangan pendapat dengan guru, percaya diri, penuh energi, dan mengingat dengan baik.
Karena ciri anak berbakat dengan sifat-sifat siswa yang guru kehendaki berbeda, maka sering terjadi prakarsa kreatif siswa tidak mendapat dukungan guru.
Salah satu model pengembangan kreativitas adalah menggunakan pertanyaan untuk menantang proses berpikir level tertinggi sesuai dengan konsep mengembangkan ide-ide kreatif  dan karya kreatif dan inovatif. Untuk mengembangkan kecakapan ini guru dapat menggunakan berbagai pertanyaan, seperti:
  • Ada ide baru?
  • Setelah memahami konsep ini apakah Anda memiliki ide baru?
  • Setelah memperhatikan cara kerja untuk menyelesaikan tugas itu, adakah proses yang dapat kita sempurnakan sehingga prosesnya menjadi lebih baik?
  • Memperhatikan contoh-contoh itu, apakah ada yang dapat kita sempurnakan sehingga akan menjadi lebih baik?

Kenakalan Remaja di Sekolah

Remaja itu penuh kenakalan. Sekolah mana sih yang tidak ada kenakalan.? Peraturan sekolah itu bagi sebagian siswa adalah hal untuk dilanggar. Ada banyak kenakalan siswa di sekolah. Namun dibawah ini adalah rangkuman 7 kenakalan siswa siswi terpopuler versi gue.
1.Cabut sekolah.
Cabut atau keluar dari lingkungan sekolah pada jam pembelajaran sudah biasa di lingkungan pelajar. Malahan banyak siswa yang keluar secara terbuka. Banyak cara untuk keluar dari sekolah,yaitu dengan memanjat pagar,lewat pintu belakang,& sebagainya. Sepengetahuan gue hal ini terjadi dikarenakan kebosanan siswa dan juga siswa ingin mencari sensasi di mata guru.
2.Smsan di waktu pelajaran.
Smsan,cara untuk mempermudah mengirim pesan lewat handphone ini juga di gunakan sebagai kenakalan siswa. siswa biasanya mengirim sms kepada sang pacar,sahabat,& temannya. Sudah tidak asing lagi kalau sering anak ketangkap handphonenya ketika jam pelajaran. Hal ini dikarenakan siswa merasa bosan atas penjelasan guru atau juga dikarenakan sih kangen sama pacar.
3.Berpakaian & berpenampilan yang tidak sesuai aturan sekolah.
Remaja itu gengsi dong berpenampilan cupu. Kadang kala kita boleh berpenampilan keren,tapi jangan melanggar aturan yang ada. Banyak siswa ingin memakai sepatu yang keren,cowok pakai gelang & kalung  tindik anting,& lainnya yang melanggar aturan. Ini karena siswa ingin tampak menawan di depan lawan jenis & kawannya.
4.Pacaran di sekolah.
Remaja wajar dong suka sama lawan jenis,kalau tidak itu harus hati-hati. Wajar remaja pacaran. Memang orang pacaran bawaannya mau berdua aja,tapi nanti bisa da syetannya. Tapi kenapa harus pacaran di sekolah.? Bukannya ada tempat lain yang lebih romantic.? Yang lebih bermodal gitu. Pacaran yang baik sih sebenernya cukup tahap pengenalan saja.
5.Nyontek
Dari tahun ke tahun,hal ini selalu membudaya. Bukan ha lasing lagi hal ini di kalangan sekolah. Soalnya sistem sekolah itu sekarang bukan menuntuk anak pandai,namun menuntut anak bernilai tinggi. Kalau boleh jujur,gue sendiri juga ngejalani sih. Ya kalau nilai jelek kan nantinya bikin malu sekolah & orang tua. Saran gue sih sebenernya sekolah itu menuntuk anak untuk pandai,bukan bernilai tinggi.
6.Berantem / perkelahian
Gak terima.?adu otot jadinya. Itu budaya anak zaman sekarang. Berantem itu terkadang Karena hal spele,seperti ejek-ejekan sampai karena masalah ngerebut wanita sang pujaan. Awalnya sih keren kalau duel 1 lawan 1,itu baru jantan. Tapi sekarang yang tidak terima kekalahan,ujung ujungnya manggil kawan dan jadilah tawuran. Kadang juga sih ini sebagai ajak agar di segani,kadang pula supaya ngelepas nafsu untuk nyakitin orang aja.
7.Bullying
Siapa yang kuat jadi penguasa,siapa yang lemah akan tertindas. Ini yang terjadi diantara siswa siswi di seluruh dunia. Mau cewek mau cowok itu sama saja. Bullying ini biasa dilakukan oleh golongan yang merasa kuat. Mereka memanfaatkan kekuasaan & kekuatan sebagai tameng untuk melakukan bullying. Banyak hal sih sebenarnya yang menyebabkan bullying ini.

Hubungan Konsep Diri dan Prestasi Siswa

Konsep diri merupakan keseluruhan pandangan tentang diri sendiri, dengan kata lain konsep diri juga merupakan potret tentang bagaimana seseorang melihat, menilai, serta menyikapi diri. Konsep diri berkembang pada masa remaja, yakni rentangan 13-17 tahun. Konsep diri penting sekali diperhatikan, sebab konsep diri merupakan penentu tingkah laku seseorang dan merupakan pandangan terhadap diri sendiri yang merupakan dasar bagi semua tingkah laku. Bila individu mempunyai konsep diri yang rendah atau negatif, individu akan menjadi kurang percaya diri, mudah putus asa, dan kurang berorientasi pada prestasi, sehingga akan mempengaruhi prestasi akademiknya di sekolah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) konsep diri siswa SMA Shalahuddin Malang, (2) Prestasi belajar siswa SMA Shalahuddin Malang, dan (3) hubungan antara konsep diri dengan prestasi belajar siswa SMA Shalahuddin Malang.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SMA Shalahuddin Malang tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 85 orang. Dalam penelitian ini menggunakan sampel total yakni mengambil seluruh populasi, karena jumlah siswa di SMA Shalahuddin Malang kurang dari 100 orang siswa. Instrumen yang digunakan untuk variabel konsep diri adalah angket dan untuk variabel prestasi belajar menggunakan dokumentasi raport siswa. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik persentase dan teknik korelasi Product Moment.
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa cukup banyak siswa (45%) yang mempunyai konsep diri tinggi, cukup banyak siswa (55%) yang mempunyai konsep diri sedang dan tidak ada siswa yang mempunyai konsep diri rendah. Untuk prestasi belajar dapat diketahui bahwa tidak ada siswa yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori amat baik dan kurang sekali, sedikit siswa (29%) yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori baik, banyak siswa (65,9%) yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori cukup, dan sangat sedikit siswa (4%) yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori kurang. Untuk analisis korelasi didapat nilai r xy= 0,052 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang lemah dan tidak signifikan antara variabel konsep diri dan prestasi belajar. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah intrumen peneliti yang masih kurang baik sehingga hasil yang diperoleh juga kurang akurat, selain itu juga prestasi belajar siswa SMA Shalahuddin Malang yang sebagian besar berada pada kategori cukup. 
Peneliti menyampaikan beberapa saran kepada (1) Konselor agar lebih meningkatkan dan mengembangkan konsep diri siswa dengan cara memberikan informasi yang berhubungan dengan konsep diri kepada siswa khususnya konsep diri agama, melihat hasil penelitian yang hanya sedikit siswa yang mempunyai konsep diri agama dengan kategori  tinggi, konselor juga diharapkan dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan guru agama dalam hal meningkatkan konsep diri khususnya konsep diri moral/ agama, mengingat bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri juga mempengarui prestasi belajar. (2) Prestasi belajar siswa SMA Shalahuddin Malang menempati kategori tinggi, cukup dan kurang. Dari hasil penelitian ini guru disarankan untuk mempertahankan prestasi belajar yang sudah tinggi, dan meningkatkan prestasi belajar siswa yang masih dalam kategori sedang dan rendah. Diharapkan guru dapat mengerti akan siswa yang memiliki prestasi belajar yang rendah, sehingga dapat membantu dalam hal proses belajar untuk menjadi lebih aktif dari sebelumnya. (3) Dalam rangka pengembangan ilmu dalam bidang pendidikan khusunya bimbingan dan konseling, para peneliti yang tertarik untuk melakukan penelitian lanjutan hendaknya memperluas ruang lingkup penelitian, mencari variabel-variabel lain yang mempengaruhi prestasi belajar, serta meneliti sekolah yang mempunyai latar belakang berbeda seperti MAN atau STM.

Rabu, 07 Januari 2015

Kegiatan di Sekolah

selfie Festival Merah Putih 
 BTS with Arum
Classmeet Frosonext ( XI-IPA1)
 Kenangan terakhir bareng Pak Rahman
Festival Merah Putih ( barong biru )